Latar Belakang

Dalam rangka mempertahankan Ketahanan Pangan Nasional, salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah adalah dengan melakukan pengamanan pasokan pupuk untuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, hortikultura dan perikanan.

Seiring dengan kebutuhan pupuk nasional yang terus meningkat maka direncanakan program revitalisasi terhadap industri pupuk sekaligus untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional.

Proyek “Pabrik Kaltim-5 (“KALTIM-5”)” merupakan tindak lanjut terhadap rencana pemerintah untuk melakukan revitalisasi pabrik-pabrik pupuk khususnya pabrik pupuk yang sudah tua dan beroperasi tidak efisien, sebagaimana Instruksi Presiden Republik Indonesia No.2 tahun 2010. KALTIM-5 merupakan proyek penggantian (replacement) pabrik Kaltim 1 yang sudah tua, dalam arti pemakaian energi gas bumi per ton urea tinggi.

Sekilas Pabrik Pupuk Kaltim-5

  • Kaltim-5 merupakan pabrik amoniak dan urea terbesar di Asia Tenggara
  • Menggunakan teknologi terkini yang hemat energi, ramah lingkungan, dan konsumsi bahan baku yang efisien
  • Konsumsi Energi:
    • Amoniak : 32 MMBtu / Ton
    • Urea : 26 MMBtu / Ton
  • Teknologi :
    • Amoniak : Kellogg Brown and Root (KBR) – Purifier (USA)
    • Urea : TOYO – ACES²¹ (Japan)
  • Kapasitas :
    • Amoniak : 2.500 MTPD atau setara dengan 825 ribu ton per tahun
    • Urea (Granul) : 3.500 MTPD atau setara dengan 1,15 juta ton per tahun
  • Pemakaian Gas Bumi : 80 MMSCFD
  • Utilitas (Steam) : Dipasok dari boiler batubara dan fasilitas eksisting
  • Lokasi : Kawasan Industri Pupuk Kaltim Bontang
  • Produk urea yang dihasilkan berbentuk granular
  • Periode Pelaksanaan : 2011 – 2014

Kontraktor

  • Konsorsium IKPT dan TOYO Engineering Corporation
  • Lingkup Pekerjaan:
    • Porsi Engineering, Procurement, Construction (EPC) oleh Konsorsium IKPT dan TOYO Engineering Corporation
    • Porsi Supply Contract (SC) oleh TOYO Engineering Corporation

Tenaga Kerja

  •  Proyek Kaltim-5 dalam masa konstruksi melibatkan tenaga kerja ± 3000 orang.

Pembiayaan

  • Project Cost : Rp 6,1 Trilyun, terdiri dari 70% berasal dari Konsorsium Bank Nasional (Mandiri, BRI, BCA, BJB, Bankaltim), dan 30% berasal dari dana sendiri.